Rabu, 19 Maret 2014

"...Barang siapa memalsukan ideologi Bangsa dan Negeri ini, dan barang siapa memalsukan dirinya sebagai pemimpin atau rakyat atau siapa pun, dan atau seseorang yang bukan dirinya, dan mengaku sebagai seorang Semar, patutlah kita semua serentak kepalkan tangan dan lantang berkata 'Go to Hell!!!'..."

Kalimat di atas membuka sebuah buku pengantar pentas dari pertunjukan berjudul PALSU karya dan Sutradara Rachman Sabur atawa Babeh. Rachman Sabur adalah nakhoda kapal tangguh berlabel TEATER PAYUNG HITAM, tempat di mana gw ditempa sekira sepuluh tahun silam. Malam itu, jumat 23 Agustus 2013, malam yang menyegarkan pandang dan bathinku, setidaknya setelah berada di rumah besar yang tak pernah tidur. Ya, rumah yang terletak di Jalan Buah Batu nomor 212 tersebut, merupakan kawah candradimuka bagi banyak nama besar di muka bumi ini.


Sebelum masuk ke ruang pentas yang sangat Sakral (memiliki nilai histori yang teramat sangat), setidaknya bagi mereka yang pernah hidup di dalamnya. Oiya, balik ke kalimat pembuka di atas! Sebelum masuk ke Gedung Kesenian Sunan Ambu, gw menyempatkan diri untuk bercengkrama dalam alunan nostalgia bersama ruang, waktu, peristiwa, dan beberapa orang yang sengaja hadir dari masa lalu. <---- banget="" melow="" nbsp="" p="" ye="">


Bertemu kawan seperjuangan yang pernah hidup "sagulung sagalang", pernah berenang bersama dalam kubangan kelingat Teater dan Air Seni, merupakan suatu hal yang bersifat "refreshing". Saling bertanya kabar, bertukar kisah, berbagi pengalaman, hingga saling mengejek masa-masa kelabu di zaman Jahiliyah dulu. Tidak lupa, gw juga bersilaturahmi dengan pohon bambu yang pernah gw tanam, mengecup dinding Dewi Asri tempat gw di tempa bagai besi di bara api, lalu bersujud di Asyu'ara, sebuah Masjid kecil yang selalu menjadi penyelamat saat syaiton menggoda, dan melepas rindu pada Bala-bala dan Gehu buatan Mamah Gor, Mc D (Mang Dayat / John), Ema, dan Mamah Tengah.


Bersama sedulur sedarah dan se-Tanah Air, akhirnya gw masuk ke ruang sakral yang tadi gw bilang sangat sakral. Bahkan, dulu ada spanduk terbentang tepat di depan Sunan Ambu bertuliskan, "TAK ADA UCAPAN SELAMAT DATANG SEBELUM MEMAINKAN PERAN DI ATAS PENTAS". Anjeeeerr edan teu?

Sampai di teras, ada beberapa usher unyu-unyu yang membagikan buku acara beserta konsumsi (Wah, baru pertama nonton teater ada konsumsinya) hehehe. Kemajuaaaannn!!

Saat pintu Sunan Ambu itu terbuka, gw merasakan ada aura magis yang memanggil. Seolah-olah menarik gw dan penonton lainnya untuk segera singgah dan duduk manis, bersiap menonton pertunjukan bertajuk PALSU tersebut. Sesaat kemudian, di tengah nuansa mistis (merinding euy!) Sunan Ambu yang khidmat, berubah menjadi gaduh dengan sorak-sorai dan tepuk tangan yang bersahutan. Gw gak ngeh semua itu ditujukan untuk siapa, pada siapa, atau terhadap apa. Sejurus kemudian, seorang pria paruh baya yang tampak Ja'im memasuki altar Sunan Ambu berkarpet merah dengan pengawalan beberapa lelaki tegap bau kelek.

Sampai akhirnya gw tau, sosok lelaki perlente tegap, berwajah Ja'im itu adalah purnawirawan Jenderal bintang empat yang konon Nya-pres di 2014 mendatang. Jika tidak salah, doi bernama Jenderal TNI (Purnawirawan) WIRANTO. Seorang jenderal besar yang terjangkit kasus yang tak kunjung usai, yakni kasus HAM di Timor Leste pasca jajak pendapat yang terjadi pada tahun 1999 silam. Bahkan, konon ini mah ya, Jenderal ini terancam diadili di pengadilan internasional (katanya loh).

Okay, lanjut ke dunia panggung Sunan Ambu malam itu. Setelah semua penonton duduk manis dan (yang ada dalam bayangan gw sih langsung disuguhi sajian renyah khas pertunjukan Teater Payung Hitam), tetiba datang seorang MC yang mencoba santun menyapa penonton dengan garingnya. Ah cair deh jadinya. Untung saja dengan sigap dila lalu tobat, dan si MC pun mengajak seisi gedung untuk berdiri sejenak untuk menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya (Patriot banget para penonton teater, bukan?)

http://www.youtube.com/watch?v=CLmLMVaF46Y

Setelah menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu pun tiba, yakni pentas teater PALSU. (Eh, belum deng.. ada gangguan dikit, yakni sambutan dari Jenderal yang tadi datang itu lho, Pak Wiranto. Dengan sigap, pensiunan Jenderal Angkatan Darat itu pun naik ke atas panggung dengan sedikit celoteh tentang Nasionalisme. (agar berbau kampanye sih!)

  
Tidak lama doi di atas panggung, akhirnya para penonton terlihat H2C alias Harap-harap cemas untuk menyaksikan lakon PALSU. (Eiittsss, belum.. Masih ada Orasi Kebangsaan dari ROBAMA).


Usai ROBAMA ber-orasi cukup panjang yang menguras waktu para penonton, dan membuat gelisah Bung Jenderal (beberapa kali disentil ROBAMA) hehehe. Alhamdulillah, para penonton tidak terjebak dalam Celoteh Jenderal PALSU dan Orasi PALSU lagi (seloroh Asep Ndog, broadcaster yang balik ke panggung Buah Batu 212). Kini, tiba waktunya para penonton menuntaskan maksud dan tujuannya singgah di Sunan Ambu, yakni MENONTON TITER (mengutip bahasa Yoyo C. Durachman).

Overture musik fade in, terdengar samar-sama suara khas Rusli Keleeng pentolan kelompok Musik 1/2 Tiang yang malam itu menjadi penata musik PALSU, bersama Randy Gevenk, Herman Eff (tumben si Papap gak Motret??) dan lain-lain. Mereka membentuk koor, bersama-sama menyikan lagu apik racikan Sawung Jabo, Kuda Lumping.

Kuda lumping nasibnya nungging 
 Mencari makan terpontang panting 
Aku juga dianggap sinting 
 Sebenarnya siapa yang sinting?
Berputar putar dalam lingkaran 
Menari tak sadarkan diri
 Mata terpejam mengunyah beling
 Mempertahankan hidup yang sulit
Kuda lumping nasibnya nungging 
Mencari makan terpontang panting
 Aku juga dianggap sinting
 Sebenarnya siapa yang sinting?
Seiring dengan Kuda Lumping yang menggema, para tokoh yang dalam hal ini menggambarkan sosok Semar, hadir di panggung dengan gaya teatrikal yang komikal. Tawa renyah penonton seolah meruntuhkan tiang-tiang yang terpancang di Sunan Ambu. Sesekali penonton menertawakan tingkah tokoh yang mengaku sebagai Semar tersebut. Tidak terkecuali gw, bersama Dikdik Jafar Sidik atawa DJ Sidik (Salikur, Arga Wilis) yang duduk di samping gw, cukup terpingkal-pingkal melihat kelakuan tiga Semar yang diperankan oleh para sahabat lama, Nugraha "Bazeer" Susanto, Nanda Darius, dan Wail Irsyad. 




Habis sudah tertawa satire menyimak kelakuan tiga Semar yang satu sama lainnya saling mengaku Semar. Setelah Gimmick yang dihadirkan Babeh tersebut, gw mulai menilik dan mengingat-ingat sesuatu. Ada beberapa hal yang gw ingat; Pertama tokoh Semar, Tata Pentas, lalu muncul Semar lainnya yang hadir tanpa Kepala yang diperankan oleh Iwan Lonceng. Ya, semua yang gw ingat adalah karakter khas dari Payung Hitam itu sendiri. Sejenak gw terikat akan lakon bertajuk KATAKITAMATI, DOM, BERSAMA TENGKORAK, KASPAR, dan lain sebagainya. Rupanya Rachman Sabur atawa biasa kami sapa dengan sebutan Babeh, masih bisa menjaga aroma nafas Teater Payung Hitam yang selama ini di besarkan.

 
Bagi penonton yang pernah terlibat dalam garapan Teater Payung Hitam, pasti akan tahu, bagaimana sebuah PROSES ber-Teater diramu dengan hati-hati dalam ruang eksplorasi yang tidak terbatas. Begitulah seorang Babeh membentuk lakon. Terkadang ada nada tinggi nan membentak, namun seiring angin berlalu ada sapaan hangat dan mesra dari Babeh kepada anak-anaknya. Itulah Teater, sebuah kerja ensambel yang penuh drama di dalamnya. Satu hal yang gw saksikan dari lakon PALSU ini adalah kolase dari lakon-lakon karya Rachman Sabur sebelumnya yang monemental. Beberapa kawan yang mengikuti perjalanan panjang Teater Payung Hitam, boleh saja merasa bosan dengan tontonan-nya. Namun, mereka harus mengakui bahwasanya seorang Rachman Sabur alias si Babeh, masih memiliki KEPEKAAN yang tajam dalam menyampaikan pesan, walau hanya lewat bahasa Mimik dan gestur sekalipun.
Kehadiran Hendra Mboth pada beberapa lakon garapan Teater Payung Hitam, memberikan warna lain, dan seakan menjadi ikon baru di Teater Payung Hitam. Tingkah lakunya yang gesit, disertai performa-nya yang powerful, akan mengingatkan kita pada sosok Tony Broer, sang ikonik Teater Payung Hitam periode medio 1980-an hingga medio 2000-an. Pada awal keberadaannya, Teater Payung Hitam yang dibentuk dengan militasi persaudaraan tersebut, melahirkan banyak aktor gaek.Selain Tonny Broer, masih banyak aktor jebolan Payung Hitam yang merajai panggung Teater, sebut saja Sis Triaji, Sukarsa Taslim, Nurrahmat SN, Budi Sobar, Joko Kurnain, Nandi Riffandi, Deni Cholid, Tony Koor, Iman Soleh, Tatang Macan, Rusli Keleeng, Iwan Lonceng, Deden Sutris, Opik PP, Denny Jabrig, dan lain sebagainya. Selain aktor, Teater Payung Hitam pun tumbuh dan berkembang dengan sentuhan para penata artistik, seperti Adun Wates, Allan Sebastian, Otong Iron, Ade Ii, Deden Bulqini, dan masih banyak lagi.



Jika Jenderal yang menonton, termasuk para tokoh pemimpin Bangsa yang hadir menonton lakon PALSU ini adalah manusia yang dibekali dengan filofis ketimuran dan kemanusiaan, maka seharusnya mereka merasa malu menonton lakon yang merupakan cerminan ke-PALSUAN para pemimpin Bangsa.       

 
Diposkan oleh

Jumat, 30 November 2012

Antologi Visual; Episode RahwanaShinta di Bentara Budaya Jakarta

 *****RahwanaShinta: Kasih (Urban) Tak Sampai*****


Dalam sebuah poster di kantor, gw melihat agenda Bentara Budaya Jakarta (Kompas-Pal Merah) yang memuat sebuah jadwal pementasan RahwanaShinta di samping beberapa acara lainnya. Sontak saja mata gw terfokus pada judul RahwanaShinta di mana ada penampakan foto yang menggambarkan adegan teatrikal. Di foto tersebut, cukup besar menampakkan sosok Ocky Sandy Lemon dan Maryam Supraba (Meimei) yang tengah beraksi dalam sebuah peraduan peran.

RahwanaShinta bukanlah lakon pewayangan RAMA-SHINTA yang kita kenal selama ini, Ocky, pada sekitar tahun 2008 silam mulai menggarap lakon RahwanaShinta dari kacamata yang berbeda. Dalam hal ini, ada pembelaan terhadap sosok Rahwana yang dikenal kejam, menjadi sosok yang memiliki cinta, walau tetep memaksa :p

Ocky memosisikan diri sebagai Rahwana yang merupakan Sang terhormat di negeri Alengkadiraja sebagai "Bogalakon" atawa Sang Protagonis Mayor. Baginya, sosok Rahwana adalah pahlawan bagi rakyatnya. Jadi, lakon RahwanaShinta karya Ocky lemon ini, menawarkan sebuah paradoks yang mungkin di luar mainstream kisah Pewayangan Rama-Shinta yang selama ini dikenal.

Gw sendiri cukup mengikuti perkembangan RahwanaShinta dari mulai tahapan ide belaka. Sebab, Ocky dan gw sama-sama lahir di kelurahan Buah Batu 212, pada masa-masa itu diskusi kecil selalu terjadi. Pada garapan pertamanya, RahwanaShinta versi Ocky Lemon dibawah naungan Teater Cassanova (saat ini digarap serius oleh Ken Zuraida Project-KZP). Saat itu, lakon RahwanaShinta yang "Nakal" tersebut, diapresiasi di beberapa Kota di Jawa Barat hingga Bali dan Lombok (kalo gak salah ye). RahwanaShinta yang digarap Ocky memang dibuat untuk tidak tuntas (Nah, loh!?) Alur yang terbangun apik di awal cukup memberikan warna baru dengan kisah yang telah di dekonstruksi. Namun, menjadi tidak tuntas, karena Ocky sebagai Sutradara yang juga empunya ini lakon, menyerahkan sepenuhnya ending lakon RahwanaShinta kepada para Nonton yang datang mengapresiasi. Hal tersebut memberikan interaksi dialogis teatrikal, di mana para Nonton dan para Lakon, juga sutradara kudu berunding untuk menyelesaikan lakon yang ngambang tersebut.

Para pelaku pro-tradisi, tentu tetap dengan wacana klasiknya yang Tetep juga menyalahkan figur Rahwana yang menculik Shinta. Namun, di sisi lain, para pro-Urban fanboy tidak lagi peduli akan alur klasik yang sudah disepakati secara universal, sebaliknya mereka turut memberikan berbagai alternatif konklusi gaya baru lakon RahwanaShinta. (itu dulu!)

Pada pertunjukan terbarunya di Bentara Budaya Jakarta 24 November 2012 yang lalu, Inetraksi dialogis antara Sutradara, Para Lakon, dan Para Nonton tidak terjadi. Entah apa, tapi justru menurut gw, ketiadaan hal tersebut untuk menyelesaikan alur, menjadi hambar bagai sinetron kicis2 yang tayang di Indosiar :p Sayang memang, karena bagi gw yang menyimak RahwanaShinta dari awal merasakan kehilangan ruh dari lakon ini.

Pertunjukan yang berjalan sekira satu jam lebih sedikit itu, dibangun dengan struktur dramatik yang cukup apik dan membawa para Nonton (hampir) hanyut kedalam konflik Klasik (di mana setelah menculik Shinta, Sri Rama & Hanoman akan datang menunggangi Jatayu untuk menyelamatkan Shinta, dan menghajar Rahwana). Namun, hal tersebut tentu tidak ada dalam lakon RahwanaShinta, sebab sesaat ketika Sri Rama dan Hanoman datang mempertanyakan kesucian Shinta, dengan bala perang yang siap tempur dari Negeri Ayodya, Rahwana sang pahlawan Alengka malah urung "ciut" dan langsung melakukan interupsi pada Sutradara!!!??? (maksud Lu?)

Ya, memang demikian kejadiannya. Rahwana atawa Ocky Lemon langsung Ber-Interupsi kepada sutradara dan menghentikan lakon tersebut!

"Saya tidak mau perang ini terjadi!! Apa semua permasalahan harus diselesaikan dengan peperangan?" Ucap Sandy lemon sang Rahwana dan Sang empunya ini cerita tentunya.

Pada adegan tersebut di atas, seharusnya menjadi semacam Gimmick atawa Spectacle  yang membuat lakon ini Berhasil menipu daya apresiator! Tapi sayang, wacaya dan gagasan yang ingin disampaikan Ocky pada 24 November 2012, Timing-nya melesat alias tidak tepat. Maka munculah keraguan atas wacana yang lama diusung oleh Sandy Lemon. Hal tersebut membuat lakon ini dengan lakon yang sama saat dipentaskan di masa lalu menjadi kurang greget :p Tapi gw gak tau apakah di hari kedua pementasan ini telah diperbarui lagi atau tidak.

*****RahwanaShinta*****

Padahal, gw sudah berkonsep (kalo-kalo ini mah) Akhir ceritera alur lakon ini diserahkan kepada penonton, gw mau bilang ke Rahwana, renggut saja kesucian Shinta-nya sebelum dibalikin ke Sri Rama, toh zaman sekarang orang "berpacararan" saling mencicipi "kesucian" jadi Lumrah doong??? Atawa Lamar aja sekalian (PEDEWEGE weh atuh... :p ) mengapa saya hendak berkata demikian, karena jauh2 hari di Prancis sana telah ada lakon yg mirip-mirip gitu La Belle et la BĂȘte atawa kita kenal dengan Beauty and The Beast di mana si buruk rupa dan si jelita toh bisa bersama dalam mahligai kasih sayang :) Jadi seharusnya lakon RahwanaShinta memang harus diselesaikan oleh para Nonton atawa apresiator. Karena, memang di sana-lah letak pertunjukannya, lebih tepatnya disaat itulah KLIMAKS yang senyatanya. Tabik!


Bingung baca tulisan di atas? Mendingan saksikan saja foto-fotonya.. ]
I Salute You.. Sukses Terus Lur Ocky Sandy Lemon!

Rakoes





























            
 To Be Continues...
                      

Kamis, 29 November 2012

Antologi Visual; Episode @saratuspersen #ICEMA2012 at Rolling Stone Indonesia #Colorful Version

JUMP, JUMP, AND JUMP!!! #ColorfulVersion

Lanjutan foto-foto Perform SaratusPersen & Ras Muhamad di #ICEMA2012 Rolling Stone Indonesia, 28 November 2012. Yuk, Maree..




















































Tetep bersambung!!! Sebab, lanjtannya akan hadir di panggung2 berikutnya.. Tabik!